Kunjungi pula Situs Utama dan foto training Agung Webe

Agung Webe, penulis buku motivasi dan trainer pemberdayaan diri

Tuesday, July 29, 2014

Idul Fitri bukan hari memaafkan

lets Celebrate!
Selamat 'merayakan' hari Raya Idul Fitri

Setiap hari dapat menjadi perayaan, dan perayaan Idul Fitri dapat menjadi 'triger' agar kita dapat membawa nuansa perayaan setiap harinya. Bukan hanya setahun sekali, namun setiap hari adalah perayaan tentang hidup itu sendiri.

Meminta maaf, mohon maaf dengan broadcast yang besar-besaran di hampir seluruh sosmed, sms dan bb, semoga bukan menjadi kegiatan 'formalitas' hanya karena ini adalah hari Lebaran.
Tentu saja tindakan tersebut merupakan tindakan yang baik. Apapun itu, kegiatan meminta maaf merupakan kebaikan.

Dan kita tahu bahwa meminta maaf bukan ditunggu dalam setahun sekali, namun setiap hari, bahkan setiap detik kita selayaknya sudah memaafkan walaupun tidak diminta atas apapun yang terjadi. Terutama memaafkan diri sendiri.

Saya jadi teringat tentang makna dan arti dari kalimat: Minal 'Aidin wal-Faizin yang ternyata bukan Mohon Maaf Lahir dan Batin. (anda bisa googling di wikipedia tentang ini)
Namun ternyata banyak yang ikut-ikutan dan tidak memahami maknanya, kemudian hanya latah mengucapkan Minal Aidin wal-Faizin yang diartikan sebagai mohon maaf lahir dan batin.

Ucapan Minal Aidin wal-Faizin mempunyai makna istimewa, yaitu secara umum diterjemahkan menjadi, "Semoga kita semua tergolong orang yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)"
Pada saat mengucapkannya kita sedang mendoakan, mem-vibrasikan, dan ber-visualiasi bahwa orang yang kita ucapakan tergolong orang yang kembali dan berhasil menuju fitrah mulia.

Istimewa bukan?

Jadi sebenarnya kalimat Minal Aidin wal-Faizin dapat diucapkan kapan saja pada saat kita mendoakan seseorang menuju kemuliaan (bukan mohon maaf lahir dan batin), sedangkan mohon maaf lahir dan batin sudah tentu menjadi sikap setiap saat dan setiap langkah kita (bukan hanya pada saat Idul Fitri)

kemudian kalimat Taqabbalallahu minna wa minkum (anda bisa googling juga di wikipedia) yang secara umum diucapkan untuk membalas kalimat atau meneruskan kelimat Minal Aidin wal-Faizin. Apa makna kalimat Taqabbalallahu minna wa minkum?

secara umum artinya adalah "Semoga Allah menerima amal kami dan kalian" .

Esensi perayaan atau merayakan hidup merupakan makna yang istimewa dari perayaan Idul Fitri ini. Kemudian disana kita saling mendoakan:
- Minal Aidin wal-Faizin - "Semoga kita semua tergolong orang yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)"
- Taqabbalallahu minna wa minkum - "Semoga Allah menerima amal kami dan kalian"

Menyadari makna-makna istimewa tersebut, mari kita jadikan perayaan Idul Fitri kali ini menjadi hari yang luar biasa yang akan membawa perubahan dalam kehidupan menjadi lebih baik dan lebih berkembang dalam kemuliaan.

Rahayu
Selamat merayakan kehidupan anda!

Saturday, July 26, 2014

NERAKA BUAT JK

Setelah masa pemberontakan Prabowo kepada Jokowi, maka bangsa hancur lebur hanya sisa puing-puing. Jokowi dituduh akan mengkafirkan bangsa sementara Prabowo mendapat legitimasi dari banyak kelompok agama yang terkenal 'langitan'. Otomatis doa buat Prabowo dan pengikutnya adalah jihad masuk surga!

Setelah baik dari pengikut Prabowo maupun Jokowi musnah didunia, mereka sama2 menunggu waktu hisab untuk ditimbang: masuk surga atau neraka?

Akhirnya malaikat memutuskan: Jokowi dan pengikutnya masuk Neraka! Pengikut Prabowo masuk Surga karena mereka hanya terprovokasi sementara Prabowo sendiri masuk Neraka!

Di Neraka, Jokowi dan pengikutnya berpesta kembali merayakan kehidupan disana. Ada konser musik dari para Slankers, ada makanan dan minuman yang tumpah ruah.
Prabowo bingung, mengapa mereka tidak disiksa? Bukankah mereka akan mengkafirkan bangsa?

Jokowi mengulurkan tangan pada Prabowo, "would you please to join us? To celebrate this life?"
Prabowo masih bingung! Gila mengapa Neraka enak kayak gini? Mengapa Neraka tidak seperti kata para 'guru langitan' waktu kampanye kemaren? Yang dilihat Prabowo adalah perayaan, perayaan, dan perayaan!

Karena bingung, Prabowo masih diam dan mengamati suasana selama 21 hari. Dalam masa 21 hari tersebut Prabowo tercerahkan!
"Ah, sekarang aku baru sadar! Baru sekarang aku sadar apa itu Neraka apa itu Surga!"

Prabowo berlari memeluk Jokowi. Prabowo berkata, "please forgive me, I am sorry, I love you, and thank you."
Dengan senyum khasnya Jokowi kembali berkata, "let's celebrate this life"

Prabowo tersenyum sambil melihat Neraka tersebut, "ternyata ini hanyalah state of mind!"

Sahabat, mari kita buat Nusantara yang lebih baik! Revolusi mental menuju Indonesia mercusuar dunia!

@Soul Journey Indonesia

nb: mengenang pilpress 2014, pemilihan umum 9 Juli 2014 diumumkan 22 Juli 2014

Monday, June 9, 2014

PENJARA PENDERITAAN

Banyak sekali manusia yang terjebak kedalam penjara penderitaan. Ya, saya menamakannya penjara penderitaan, karena ia memang sedang terpenjara.

Seorang pengemudi mobil yang stress dan selalu mengumpat pada saat memegang kendali setir mobilnya. Ia selalu membunyikan klakson mobil setiap kali ada mobil yang menyalibnya. “brengsek! Ngapain sih nyalip-nyalip!”
Seorang remaja yang merasa menderita karena semua orang yang dekat dengannya dilihatnya sebagai orang yang akan mengambil keuntungan dari hubungan dekatnya.
Sepasang orang tua yang merasa menderita karena anak yang tumbuh dari tangan didiknya tidak sesuai dengan harapannya akan pendidikan.
Orang tua yang menderita karena setiap kali terjadi kesedihan dan kemalangan dalam rumah tangganya
Seorang ibu yang menderita karena melihat anaknya sakit.

Mengapa manusia terpenjara dalam penderitaan? Apakah penderitaan dapat dihindari?

Bila kita sebagai manusia sadar bahwa saat ini kita sedang menikmati hidup didunia, maka kita juga sadar bahwa ini adalah alam dualitas. Artinya di alam dunia ini selalu terjadi dua sisi berlawanan yang hadir dalam kehidupan.
Ada baik ada jahat. Ada tinggi ada rendah. Ada suka ada derita. Ada sehat ada sakit. Ada cerita ada susah. Ada bahagia dan ada sengasara.

Dalam setiap waktu yang ada, dua sisi tersebut akan selalu hadir bergantian. Tidak ada satu sisi yang hadir selamanya. Karena setiap satu sisi hadir, ia akan berlalu. Kemudian hadir sisi yang lain dan juga akan berlalu.

Manusia yang merasa menderita adalah ia yang mengharapkan hidupnya hanya dihadiri satu sisi saja dari kehidupan.
Ada yang hanya mengharapkan suka cita saja dalam hidupnya. Ada yang mengharapkan sehat saja dalam hidupnya. Ada yang mengharapkan bahagia saja dalam hidupnya.

Apakah manusia dapat memilih apa yang harus hadir dalam hidupnya? Tentu saja tidak bisa. Karena setiap peristiwa akan hadir seperti gelombang lautan yang berkesinambungan.

Melepaskan penjara penderitaan adalah menyadari dan menerima seutuhnya setiap sisi dualitas yang hadir dalam kehidupan.
Saat ini anda menerima sakit, nanti akan menerima sembuh. Demikian sebaliknya.
Saat ini anda menerima ceria, nanti akan menerima duka. Demikian sebaliknya.
Saat ini anda menerima gagal, nanti akan menerima sukses. Demikian sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan para bijaksana yang terlihat mereka bahagia sepanjang masa dan terlihat sama sekali terlepas dari penderitaan?
Mereka tidak terlepas dari penderitaan. Mereka tidak terlepas dari hukum dualitas yang hadir dalam hidupnya.
Mereka dapat merasakan bahagia setiap saat karena mereka selalu mengatakan “ini akan berlalu” terhadap setiap peristiwa yang hadir dalam hidupnya.

Tentu saja, anda tidak akan dapat hanya mengharapkan satu jenis peristiwa saja dalam hidup anda, karena ia akan hadir dalam gelombang dualitas yang menjadi hukum alami dalam dunia ini.

Apapun yang hadir dalam hidup anda saat ini, sadari bahwa ini adalah gelombang dualitas yang nanti akan berlalu. Apapun yang hadir, sekali lagi ini hanyalah dualitas kehidupan, bahwa ”ini akan segera berlalu”
Mari kita menerima segala sisi kehidupan tanpa kita memilahnya mana yang aku mau dan mana yang tidak aku mau.
Kita menerima semua sisi tersebut dengan penuh rasa syukur.

Wednesday, March 5, 2014

Powerpuff – karyawan yang sok ‘bossy’



 Yudi adalah seorang karyawan. Sama seperti teman-temannya yang karyawan, ia punya jobdes yang sudah jelas. Sebagai seorang pelaksana maka seharusnya Yudi, dengan sesama karyawan lain dalam strata jabatan yang sama saling mengisi demi tercapainya sebuah goal dalam pekerjaan.
Namun disini, Yudi berlaku sebagai orang yang suka memerintah. Apalagi dengan karyawan yunior yang baru masuk. Yudi dapat berlaku seperti ‘mandor’ yang suka menyuruh untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya ia kerjakan.
Kondisi ini tentu saja membuat tidak nyaman teman-temannya. Namun para yunior karyawan biasanya hanya bisa diam saja dan menerima ‘nasib’ sebagai karyawan baru.

Apakah banyak Yudi-yudi lainnya di tempat kerja anda?
Bila ya, maka orang seperti Yudi sedang terjangkit penyakit yang bernama Powerpuff, yaitu sindrom kekuasaan gagal dimana dirinya ingin dihormati lebih. Apakah hal ini akan mengganggu kinerja perusahaan? Tentu saja iya. Apabila karyawan yang lain tidak nyaman dengan situasi dimana ada Yudi, maka tentu saja hal ini akan membuat semangat kerja menurun, produktifitas menjadi lambat dan tingkat pencapaian goal yang rendah.

Mengapa powerpuff ini ada?
Sebabnya dapat dari lingkungan pekerjaan dan lingkungan pribadi. Lingkungan pekerjaan adalah, bahwa seseorang telah bekerja lama (lebih dari 15 tahun) dan merasa bahwa jabatannya mentok. Sementara dirinya tidak mau untuk meningkatkan kemampuan sehingga ia terus pada posisi jabatan pelaksana karyawan. Dengan kondisinya itu maka ia melampiaskan kegalauan jabatan atau impian tentang jabatan yang lebih tinggi dengan cara berlaku sebagai powerpuff.
Dari lingkungan pribadi dapat disebabkan pola didik orang tua yang memanjakan anak. Dari kecil seseorang dibiasakan semua tersedia dan tidak memahami sebuah perjuangan untuk mencapai sesuatu.

Bagaimana sebaiknya bila anda menemukan teman anda berlaku sebagai Powerpuff?
Orang seperti Yudi adalah bad apple, atau apel busuk dalam perusahaan. Busuknya sang apel ini dapat menularkan kebusukan pada apel lainnya.
Bila ini anda lihat pada teman kerja anda, maka hal pertama yang dapat anda lakukan adalah bicara baik-baik padanya tentang suasana kerja. Memberikan pengertian kembali tentang jobdes yang ada.
Bila masih  berlaku sama, maka anda dapat memberikan masukan kepada manager anda tentang rekan anda tersebut. Tujuannya adalah agar rekan anda menyadari dan segera mengubah sikapnya.
Bila masih tidak berubah juga, maka anda dapat menuliskan kepada atasan anda lagi agar memberikan pembinaan khusus kepada rekan kerja anda tersebut.
Hal ini harus anda lakukan karena powerpuff merupakan penyakit menular. Artinya sikap ini dapat menjalar kepada siapapun juga, terutama dengan tingkat dan kedekatan emosi dan juga apabila seseorang mengalami kondisi yang sama, yaitu merasa tidak diperhatikan oleh perusahaan.


Tuesday, February 4, 2014

GENGSI JABATAN

Menjadi karyawan, memang dimulai dari posisi paling bawah. Kemudian seiring dengan pengalaman dan lamanya waktu bekerja, seorang karyawan akan mendapatkan promosi jabatan.

Seberapa penting sih Jabatan tersebut?
Banyak yang terjebak bahwa Jabatan merupakan tujuan bekerja. Namun itupun tidak salah, karena merupakan pilihan-pilihan dalam kehidupan.
Mengapa saya mengatakan bahwa Jabatan bukan tujuan? Ya, bila posisi jabatan hanya menjadi tujuan maka seorang karyawan akan berhenti pada jabatan tersebut.

Lalu apa yang semestinya dilakukan? Yaitu melihat kesempatan dan peluang dimana ia dapat lebih maju dan berkembang.
Apakah sebuah jabatan belum tentu membuat seseorang lebih maju dan berkembang? Belum tentu!
Jabatan dapat hanya menjadi sekedar gengsi.

Gengsi dipanggil sebagai atasan
Gengsi dipandang sebagai manager
Gengsi mempunyai anak buah.

Kembali lagi kepada pertanyaan reflekif, "apa tujuan anda dalam bekerja?"
Apakah anda dapat merumuskan jawaban pertanyaan tersebut?

Bila demikian, apakah anda mengejar jabatan atau mengejar peluang dan kesempatan? Bagaimana bila peluang dan kesempatan tersebut berada dalam jabatan baru? Ya tentu saja itu adalah tantangan untuk maju!

Yang menjadi penting adalah, apakah sebuah jabatan akan memajukan dan membuat anda berkembang atau tidak? Karena bila anda hanya berpikir bahwa kenaikan jabatan akan diikuti oleh kenaikan gaji, maka perkembangan anda akan berhenti pada gaji.
Padahal kesempatan dan peluang yang mungkin bisa anda dapatkan akan melebihi gaji yang anda terima.

Salam sukses!

Friday, November 15, 2013

Jabatan, Gaji, dan Peluang

Seperti biasa. Jakarta di hari Jumat sore, jalan seakan diisi oleh mobil-mobil yang 'parkir dijalan' alias macet pol! Dalam taxi dari bandara menuju rumah, hampir 2 jam saya hanya bergerak sepanjang Grogol ke Tomang.

Namun inilah yang memang layak dinikmati. Beberapa teman bilang, "sudahlah pindah saja ke Yogya atau Bali", Bagi saya justru kondisi seperti ini yang harus ditaklukan. Tak ubahnya sebuah pilihan dalam hal pekerjaan atau apapun juga. Ada satu sisi dimana seseorang akan mempertahankan idealismenya untuk tidak terbawa dengan kata: "terpaksa berubah". Namun sekali lagi, tidak berubahnya orang-orang ini bukan karena ia tak berani untuk memutuskan berubah. Ia sadar betul bahwa ia sedang melawan sebuah sistem yang baginya hanya membonsai sebuah potensi.

Contoh sederhana adalah adanya tawaran naik jabatan. Naik jabatan identik dengan kenaikan karir. Namun seseorang harus memahami dengan betul tentang adanya perbedaan antara jabatan fungsional dan jabatan struktural. Ketika sebuah sistem dalam perusahaan hanya mengenal adanya jabatan fungsional, maka kenaikan karir tidak akan mengikutinya. Mengapa? Karena disana tidak lagi dihitung perbandingan antara reward dengan usaha plus resiko yang dilakukan karyawannya.

Bicara tentang karir, tentu tak lepas dengan yang namanya peluang. Nah, dalam bekerja, apa yang ingin anda capai lebih banyak: peluang atau gaji tetap anda? Pilihan ini tentu saja akan mewarnai seluruh aspek dalam keputusan anda, baik tentang jabatan ataupun bertahan dalam posisi level anda saat ini. Untuk itu, tidak ada salahnya kita mengingat kembali hal mendasar yang coba kita tanyakan kembali kepada diri kita : apa tujuan kita bekerja?

Dalam pekerjaan, disamping ada gaji yang diterima tentu saja ada peluang yang selalu hadir. Sebagian karyawan memilih untuk berpikir tentang gaji saja. Bagaimana upaya agar gajinya naik dan serangkaian usaha kenaikan jabatan yang berpengaruh terhadap gajinya.
Sebagian karyawan lagi memilih untuk berpikir tentang peluang yang dapat dimanfaatkannya sehingga pendapatannya dapat melebihi gaji sekalipun itu gaji level jabatan diatasnya.

Bagi seseorang yang menurut Wiltson termasuk katagori karakter 'campers', tentu saja pemikiran tentang tujuan peluang ini sangat rumit dan sulit dicerna. Namun bagi para 'climbers' hal itu merupakan tantangan untuk dapat mengeksplorasi potensinya lebih luas. Para campers akan selalu berkata, "sudahlah, inikan maunya perusahaan kita. Mau apa lagi, ya mau nggak mau kita jalani apa yang ada"

Pekerjaan memang adalah individu outcome. Artinya masing-masing mempunyai tujuan secara individu didalamnya. Yang parah dan ironis adalah mereka yang tidak tahu tujuannya dalam bekerja. Kebanyakan, tujuan bekerja hanyalah menyambung hidup, yaitu hanya untuk mencukupi kebutuhan baik itu pribadi maupun keluarga.

Nah, kalau bekerja tidak sekedar hanya menyambung hidup, yaitu tidak sekedar mencukupi kebutuhan pribadi maupun keluarga, lalu apa lagi? Visi! Ya, tentu saja visi!
Atau jangan-jangan definisi visi itu sendiri saja tidak dimengerti? Bagi saya, sederhananya visi itu adalah the big dream. Bukan sekedar mimpi, namun mimpi besar!
Apakah anda punya mimpi besar yang akan diwujudkan melalui pekerjaan anda? Atau Uuppss, anda hanya jadi robot perusahaan? Tanpa tahu tujuan, tanpa mengenal visi, dan tetap melakukan rutinitas tugas pekerjaan anda! Bukankah itu robot produksi?

Hmmmm, tak terasa, taxi yang mengantar saya sudah sampai di tol Bekasi barat. Dan inilah peluang yang saya contohkan. Dalam menikmati kemacetan, saya menyempatkan diri untuk menulis.
Bagaimana dengan anda? Tentu saja saya yakin, mulai saat ini anda juga melihat peluang-peluang hadir dalam hidup anda.

Salam sukses!



Sunday, October 6, 2013

PELEPASAN

Judul dan tulisan ini terisnpirasi karena 'closet'. Ya karena tulisan ini lahir pada saat kegiatan rutin pagi hari diatas closet.
Pelepasan menjadi penting bagi manusia dalam bidang apa saja, termasuk emosi. Emosi memerlukan jalur pelepasan agar pikiran tetap dapat berfungsi baik dan tidak terpengaruh emosi yang meledak-ledak.

Mimpi adalah salah satu pelepasan alamiah bagi emosi terpendam dan bahkan kita lupakan. Lewat mimpilah emosi menjadi punya penyaluran secara alami.
Namun bukan berarti setelah pelepasan emosi maka menjadi kosong dari gudang emosi ini, tidak. Pelepasan lewat mimpi hanya sebagian kecil dari emosi yang sudah tidak tertampung oleh kondisi pikiran jaga. Selanjutnya, untuk mengikis emosi lainnya, maka seseorang harus melakukan pelepasan secara sadar akan emosinya.

Pelepasan secara sadar dikenal dengan nama 'katarsis'.
Ibarat orang yang buang air besar, lakukanlah katarsis secara rutin agar sehat dan seimbang.

Salam pelepasan

Sunday, August 25, 2013

EUFORIA POWER SINDROM (EPS)

EPS atau Euforia Power Sindrom adalah penyakit yang banyak menjangkiti para pelaku jabatan baru, entah itu supervisor, manager, direksi, atau pimpinan.

Sebuah jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya menyebabkan konsekuensi tanggung jawab yang lebih. Namun disana juga membawa ego bahwa 'aku punya anak buah'.
Dalam Leadership, mereka yang terjangkiti EPS ini tidak memahami  bahwa jabatan managerial yang mereka capai adalah tangga pertama dalam filosofi jabatan, bahwa jenjang jabatan yang diperoleh dalam struktur perusahaan tidak dikatagorikan pemimpin, karena orang menghormati hanya karena jabatan yang ada.

Ini adalah kenyataan yang ada, bahwa ketika seseorang telah melepas baju kantornya, dia bukanlah manager lagi. Artinya bahwa EPS sangat mungkin sekali dibawa pada saat ia telah melepas jam kantornya.

Beberapa hal yang dapat menimbulkan EPS ini antara lain adalah:
■ Dendam masa lalu dimana ia pernah diperlakukan tidak adil oleh atasannya dan ia berpikir bahwa ini adalah saatnya balas dendam
■ Kurang menyadari peran dan fungsi Jabatan
■ Keinginan untuk dihormati dimana ia belum pernah mendapatkannya sebelumnya
■ Shock Culture, yaitu kaget dengan posisi baru
■ Ingin eksis

Untuk meminimalisasi EPS bagi calon pemegang jabatan baru, hendaknya pengetahuan dan sikap menyadari tentang karakter diri, self leadership, perlu ditekankan kembali.
Kandungan tentang pelajaran leadership dalam setiap strata jabatan harus diperbanyak muatannya.

EPS akan sangat berpengaruh dengan suasana dan kenyamanan kerja tim. Bagi manager yang mengidap EPS ia akan bisa bersikap semena-mena dengan perintah yang bertujuan untuk membuktikan bahwa posisinya lebih tinggi dari yang diperintah.

Jabatan, apapun yang sedang anda jalani, adalah untuk membuat orang lain lebih bisa maju dari sebelumnya.
Apakah anda mengidap EPS ini? Saya berharap tidak, karena saya yakin bahwa anda adalah pribadi sukses yang menyadari filosofi self leadership untuk kemajuan orang banyak.

Salam sukses!

KANTUNG AJAIB

Seorang anak kecil penyemir sepatu yang sore itu bermain-main ke sawah, menemukan buntalan kain yang sudah kumal. Karena anak tersebut memang sedang ingin punya kantong untuk tempat koin uangnya, maka buntalan tersebut dibawa pulang dan dibersihkan agar dapat ia pakai.

Setiap hari buntalan kantong tersebut ia bawa untuk tempat koin uangnya yang ia kumpulkan dari pendapatan menyemir sepatu. Uang yang ada dikantongnya tersebut jumlahnya selalu habis untuk membeli makan, karena memang pendapatannya dari menyemir sangat pas hanya untuk membeli makan.

Hari itu adalah hari biasa, bukan hari libur. Anak kecil penyemir sepatu ini hanya mendapatkan penghasilan sedikit. Giliran tiba ia lapar, ia berpikir bahwa uangnya belum cukup untuk membeli makanan. Ia hanya berdiri didepan warung sambil merasakan perutnya yang sudah berbunyi. Kemudian ia mencoba merogoh kantongnya dan ternyata ia menemukan uang yang cukup untuk membeli makanan. Ia berpikir, "ah mungkin ini sisa yang kemaren. Aku lupa kali."

Kejadian tersebut terulang selama berhari-hari, sampai ia curiga dengan kantong tempat ia menaruh uangnya. Kemudian ia ingin mencoba hal yang sebelumnya belum pernah ia lakukan, yaitu berdiri didepan toko pakaian dan ingin membelinya. Apa yang terjadi? Pada saat ia merogoh kantongya ia mendapati sejumlah uang yang pas untuk membayar pakaian yang diinginkannya.
Suatu hari ia berpikir, "Kalau aku memakai sepeda, tentunya aku tidak capek berputar menawarkan semir sepatu."
Akhirnya anak tersebut berdiri didepan toko sepeda dan mendapati uang dari kantongnya cukup untuk membeli sepeda.

Melihat si anak penyemir sepatu sekarang memakai sepeda dan baju yang bersih, teman- temannya heran, darimana ia mendapatkan uang tersebut?
Pada suatu malam, dibawah ancaman temannya yang ingin tahu darimana anak itu mendapatkan uang, maka ia mengatakan bahwa ia mendapatkan uang dari kantong ajaibnya.
Teman tersebut bilang, "wah goblok kamu! Dengan kantong ini kita bisa kaya, ngapain kita jadi penyemir sepatu? Sini berikan kantong itu buatku!"

Akhirnya kantong tersebut berpindah tangan dibawa temannya. Selang beberapa hari ia mendengar temannya meninggal dunia didepan toko mobil dikarenakan dipatok ular dari dalam kantong saat tangannya masuk kedalamnya.
Anak penyemir sepatu itu bergumam, "teman, seandainya engkau tahu bahwa kantong ajaib ini akan memberikanmu apa yang kamu butuhkan, dan bukan yang kamu inginkan, maka kau akan lebih bisa menikmati hidupmu."

Kantong itu kembali dibawa oleh anak penyemir sepatu yang setiap hari masih giat bekerja menyemir dengan sepedanya berputar menghampiri pelanggannya.
Baginya, keajaiban akan datang setelah ia bekerja. Dan tak ada keajaiban tanpa disertai usaha untuk mendatangkannya.

Salam sukses

Saturday, August 24, 2013

MENGATASI RASA TAKUT MENGAMBIL KEPUTUSAN

Seseorang diam ditempat, tidak melangkah maju. Alasannya adalah takut keputusan yang diambilnya salah.
Apakah hal ini terjadi pada anda?

Rasa takut berasal dari ketidaktahuan. Tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dialami. Apa yang sebenarnya dialami? Yaitu resiko!
Apapun langkah yang anda ambil, sekalipun itu diam, akan menghasilkan sebuah resiko. Mungkin anda berpikir bahwa dengan tidak mengambil keputusan, maka anda terhindar dari resiko. Namun coba perhatikan, bahwa sangat mungkin sekali anda justru berada dalam resiko yang paling besar, yaitu tidak maju!

Masa depan adalah lautan kemungkinan.
Mungkin sukses, dan mungkin juga gagal. Baik itu sukses maupun gagal, tidak menjadi masalah penting. Yang lebih penting adalah kita menjalankan tindakan prosesnya.

Dalam mengambil keputusan, ada dua jenis langkah, yaitu spekulasi dan strategi.
Dalam berspekulasi, seseorang mengambil keputusan tanpa melihat efek baik dan buruknya. Dalam menjalankan strategi, seseorang sudah melihat mana tindakan baik dan buruk efeknya.
Artinya, dalam berstrategi, kita telah mengukur kemungkinan dari kegagalan dan kesuksesan.

Kalau kita menyadari bahwa masa depan adalah lautan kemungkinan, maka tidak mengambil keputusan adalah kerugian yang sangat besar. Apa yang anda takutkan? Kegagalan? Resiko yang besar? Kegagalan adalah kemungkinan, sementara resiko yang besar dapat kita sikapi dengan langkah strategi.

Contoh spekulasi adalah demikian,
Anda seorang karyawan, dan tiba-tiba anda memutuskan berhenti bekerja. Kemudian uang pesangon anda akan anda gunakan untuk usaha. Sementara anda tidak pernah sama sekali belajar usaha, mencari info usaha, apalagi mulai membangun jaringan usaha. Anda hanya berkata, "saya berspekulasi dengan ini, mau sukses atau gagal, ini adalah spekulasi saya"

Sementara seseorang yang berstrategi sudah mengukur langkahnya dan kemungkinannya. Dan bila jatuh gagal, seseorang yang berstrategi akan lebih siap karena ia tahu kemungkinan itu. Dan ia juga lebih cepat untuk bangkit karena dia punya strategi lainnya untuk mengambil jalan lain bila rencana awal gagal.

Bila sekarang anda paham bahwa masa depan adalah kemungkinan, maka bukankah lebih baik untuk meletakkan kemungkinan itu dalam keputusan anda, daripada anda takut mengambil keputusan yang berarti menunda kemungkinan anda untuk menjadi nyata?

Salam sukses!

Wednesday, August 21, 2013

Membangun Percaya Diri

Dalam berbicara di depan orang banyak, percaya diri merupakan hal penting yang perlu diperhatikan. Banyak orang yang masih sulit membangkitkan rasa percaya diri ketika akan berbicara di depan orang banyak.
Beberapa pertanyaan yang masih sering mampir ke email saya berkaitan dengan public speaking adalah:




● Bagaimana cara menghilangkan grogi?
● Bagaimana agar percaya diri membawakan materi?
Setiap orang yang akan memulai bicara sudah pasti mengalami dua hal diatas. Ada yang intensitasnya besar dan ada yang kecil. Bahkan sayapun sampai sekarang (dan pengakuan beberapa pembicara terkemuka) bahwa masih merasakan grogi pada awal sebelum bicara. Namun saya mempunyai tips & trik untuk mengatasinya secara cepat.
Diatas segalanya, bagi anda yang sedang memulai untuk bicara didepan orang banyak, penguasaan materi adalah hal utama. Ini mutlak, bahwa ketika anda mulai bicara maka anda harus menguasai materi anda.
Saya mengatakan menguasai materi, bukan menghapal materi. Ya menguasai bukanlah menghapal.
Menguasai materi adalah mengetahui poin-poin pokok yang merupakan inti materi anda. Ketika anda memgetahui poin-poin pokok materi anda, maka anda akan mengalir untuk mengungkapkannya. Berbeda dengan menghapal, dimana akan terjadi kekakuan dan sangat teks book sekali.
Grogi? Itu hal biasa! Segera pergi ke toilet, lihat muka anda, diri anda, pakaian anda dan anda secara detail. Kepalkan kedua telapak tangan anda kencang. Tarik nafas dan hembuskan kencang sambil melepas kepalan telapak tangan anda. Sedikit keluarkan suara: hhhahhhhhhhh! Lakukan beberapa kali sampai grogi anda hilang.
Setelah anda menguasai materi, percaya diri dapat anda bangun dengan cara VISUALISASI.
Yaitu sebelumnya, bisa sehari, dua hari sebelumnya, anda bayangkan diri anda secara detail bicara didepan audience anda. Bayangkan detail gerak tangan dan kaki anda, bayangkan wajah anda ceria berinteraksi dengan orang banyak , bayangkan sedetail mungkin kesuksesan anda diatas panggung tersebut.
Mengapa visualisasi? Karena dengan membayangkan secara detail apa yang anda harapkan tersebut, seluruh syaraf dan sel otak anda sudah membentuk jalan atau jembatan untuk memudahkan langkah nyata pada saatnya nanti.
Grogi dan kurang percaya diri? Silahkan lakukan langkah-langkah diatas tersebut.
Salam sukses!

Wednesday, July 10, 2013

Agung Webe (puisi +teks) & Soul Journey Indonesia (whirling dervish)



MANUNGSO

Manungso = Manunggaling Roso. Manunggaling berarti bersatunya atau jadi satu. Roso disini bukanlah rasa atau perasaan. Roso merupakan perwakilan dari bagian-bagian diri manusia yang dimanifestasikan dalam simbol-simbol perasaan itu sendiri. Ada Roso saat kecewa, sedih, bahagia, senang, menghadapi satu masalah atau kejadian. Roso adalah ego manusia. 
 
Penyebutan 'manungso' oleh orang Jawa dahulu menandakan bahwa mereka sudah memahami kalau manungso adalah tempat berkumpulnya ego jadi satu. Mereka telah memahami bahwa ego dalam diri manungso itu banyak. Untuk itulah lahir konsep 'sedulur papat limo pancer' dimana para leluhur Jawa ingin memberikan metafora tentang ego states manusia.

Lebih dalam lagi, Ki Ageng Suryomentaram menjelaskan lebih detail untuk memisahkan 'sang diri' dengan ego-ego yang ada. Dalam metode KRAMADANGSA yang diuraikannya, setiap tindakan dimungkinkan untuk mengambil jarak antara pelaku dan yang dilakukan. 
Kini, karena ketidak sadaran manusia itu sendiri, banyak yang terlelap sehingga terjebak dalam kemelekatan bahwa aku adalah apa yang aku lakukan. Aku adalah apa yang orang lain persepsikan tentangku. Aku adalah apa yang aku rasakan tentang hal-hal yang menyangkut diriku.
Bila kata 'manungso' ini kita sadari, maka akan menjadikan paradigma kita kaya tentang sebuah makna. Manungso sebagai berkumpulnya 'roso', maka kita sadar bahwa ada kesadaran yang memperhatikan, mengatur, dan mengarahkan para 'roso' itu sendiri. Dan itu bukan Tuhan. Kesadaran itu merupakan higher self yang masih terdapat didalam diri. Kesadaran itu yang dapat berkomunikasi dengan para 'roso' dan mengijinkan mana 'roso' yang boleh dominan pada satu masa kejadian. 

Bayangkan apabila seseorang tidak menyadari bahwa respon dia atas suatu peristiwa akan menghasilkan 'roso' tersendiri (baca roso sebagai ego states), maka 'roso' tersebut akan menguasai dan akan muncul saat ada peristiwa yang sama. Dan bayangkan apabila 'roso' yang ada merupakan trauma, kekecewaan ataupun kemarahan? Apa yang terjadi? Maka manusia akan dijerat oleh kemelekatan bahwa yang dia alami adalah respon dari 'roso' itu sendiri.
Manusia sebagai Manungso adalah manusia yang menyadari bahwa dirinya bukanlah kumpulan roso tersebut. Dirinya dapat mengatur dan mengendalikan roso-roso yang ada. Dan bahkan dirinya yang mengijinkan mana roso yang boleh dominan pada satu peristiwa dan mana yang tidak.

Selamat menyadari diri anda sebagai manungso!