Kunjungi pula Situs Utama dan foto training Agung Webe

Agung Webe, penulis buku motivasi dan trainer pemberdayaan diri

Wednesday, February 11, 2015

IKHLAS dan TERWUJUDNYA IMPIAN

Sampai saat ini saya masih belum menemukan korelasinya antara ikhlas dan terwujudnya impian. Setidaknya saya tidak melihat bahwa dampak ikhlas adalah terwujudnya impian atau keinginan. Karena bagi saya, ‘ikhlas’ dan terwujudnya impian adalah dua daerah yang berbeda.

Apakah Ikhlas itu?
Karena kata Ikhlas banyak dipakai dalam agama Islam, maka beberapa arti Ikhlas akan saya copy paste dari beberapa sumber yang ada:
·         "Dan mereka tidak diperintah, kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan ikhlas dalam menjalankan AgamaNya". (QS. Al-Bayyinah : 5). 
·         Prof. Dr. Hamka: yakni mengatakan bahwa arti ikhlas itu adalah bersih, tidak ada campuran apapun.
·         Dzun Nun Al-Misri : "Kecuali dengan kebenaran dan sabar di dalam ikhlas, maka ikhlas itu tidak akan sempurna". Di samping itu juga Dzun Nun Al-Misri menambahkan keterangannya mengenai ikhlas, ada tiga alamat yang telah menunjukkan keikhlasan pada seseorang, antara lain adalah: 
1.      Ketiadaan perbedaan antara pujian dan celaan. 
2.      Lupa memandang amal perbuatan di dalam amal perbuatannya sendiri. 
3.      Lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya di dalam kampung akhirat. 

Yang menarik adalah tulisan dari Drs. Syamsir, M.Ag (Dosen Ulumul Qur'an & Fiqh FIBA):
Bila diteliti lebih lanjut, kata ikhlas sendiri sebenarnya tidak dijumpai secara langsung penggunaannya dalam al-Qur’an. Yang ada hanyalah kata-kata yang berderivat sama dengan kata ikhlas tersebut. Secara keseluruhan terdapat dalam tiga puluh ayat dengan penggunaan kata yang beragam. Kata-kata tersebut antara lain : kata khalashuu, akhlashnaahum, akhlashuu, astakhlish, al-khaalish, dan khaalish masing-masing sebanyak satu kali. Selanjutnya kata khaalishah lima kali, mukhlish (tunggal) tiga kali, mukhlishuun (jamak) satu kali, mukhlishiin (jamak) tujuh kali, mukhlash (tunggal) satu kali, dan mukhlashiin (jamak) sebanyak delapan kali.

Secara etimologis, kata ikhlas merupakan bentuk mashdar dari kata akhlasha yang berasal dari akar kata khalasha. Menurut Luis Ma’luuf, kata khalasha ini mengandung beberapa macam arti sesuai dengan konteks kaliamatnya. Ia bisa berarti shafaa (jernih), najaa wa salima (selamat), washala (sampai), dan I’tazala (memisahkan diri).

Selanjutnya, ditinjau dari segi makna, term ikhlas dalam al-Qur’an juga mengandung arti yang beragam. Dalam hal ini al-Alma’i merinci pemakaian term tersebut kepada empat macam :
Pertama, ikhlas berarti al-ishthifaa’ (pilihan) seperti pada surat Shaad : 46-47. Di sini al-Alma’i mengutip penafsiran dari Ibn al-Jauzi terhadap ayat tersebut yang intinya bahwa Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka orang-orang yang suci. Penafsiran yang sama juga dikemukakan oleh al-Shaabuuni dalam tafsirnya Shafwah al-Tafaasiir, yakni “Kami (Allah) istimewakan mereka dengan mendapatkan kedudukan yang tinggi yaitu dengan membuat mereka berpaling dari kehidupan duniawi dan selalu ingat kepada negeri akhirat.” Dengan demikian terdapat kaitan yang erat (munaasabah) antara ayat 46 dengan 47, yakni ayat yang sesudahnya menafsirkan ayat yang sebelumnya.
Kedua, ikhlas berarti al-khuluus min al-syawaa’ib (suci dari segala macam kotorn), sebagaimana tertera dalam surat an-Nahl : 66 yang membicarakan tentang susu yang bersih yang berada di perut binatang ternak, meskipun pada mulanya bercampur dengan darah dan kotoran ; kiranya dapat dijadikan pelajaran bagi manusia. Makna yang sama juga terdapat dalam surat al-zumar : 3, walaupun dalam konteks yang berbeda. Dalam ayat tersebut dibicarakan tentang agama Allah yang bersih dari segala noda seperti syirik, bid’ah dan lain-lain.
Ketiga, ikhlas berarti al-ikhtishaash (kekhususan), seperti yang terdapat pada surat al-Baqarah : 94, al-An’am : 139, al-A’raf : 32, Yusuf : 54, dan al-Ahzab : 32.
Keempat, ikhlas berarti al-tauhid (mengesakan) dan berarti al-tathhir (pensucian) menurut sebagian qira’at. Ikhlas dalam artian pertama inilah yang paling banyak terdapat dalam al-Qur’an, antara lain terdapat dalam surat al-Zumar : 2,11,14, al-Baqarah : 139, al-A’raf : 29, Yunus : 22, al-Ankabut : 65, Luqmaan : 32, Ghaafir : 14,65, an-Nisaa : 146, dan al-Bayyinah : 5. Dalam ayat-ayat tersebut, kata-kata yang banyak digunakan adalah dalam bentuk isim fa’il (pelaku), seperti mukhlish (tunggal) dan mukhlishuun atau mukhlshiin (jamak). Secara leksikal kata tersebut dapat diartikan dengan al-muwahhid (yang mengesakan). Dalam konteks inilah kiranya surat ke-112 dalam al-Qur’an dinamakan surat al-ikhlaas, dan kalimat tauhid (laa ilaaha illa Allah) disebut kalimat al-ikhlas. Dengan demikian makna ikhlas dalam ayat-ayat di atas adalah perintah untuk selalu mengesakan Allah dalam beragama, yakni dalam beribadah, berdo’a dan dalam perbuatan taat lainnya harus dikerjakan semata-mata karena Allah; bukan karena yang lain. Itulah sebabnya mengapa term ikhlas pada ayat-ayat di atas selalu dikaitkan dengan al-diin.

Dari beberapa sumber dan ulasan yang saya copy paste di atas, tidak ada satupun yang menjelaskan bahwa Ikhlas berkaitan dengan terwujudnya impian.
Kalau saya cuplik dari kalimat diatas ini: “Dengan demikian makna ikhlas dalam ayat-ayat di atas adalah perintah untuk selalu mengesakan Allah dalam beragama, yakni dalam beribadah, berdo’a dan dalam perbuatan taat lainnya harus dikerjakan semata-mata karena Allah”.
Dalam hal ini makna Ikhlas kalau saya maknai secara universal adalah ajakan untuk selalu berada dalam ‘present time’ atau saat ini. Lebih dalam lagi, apabila Allah adalah segala sumber dari kesadaran dalam perbuatan dan tindakan, maka mengarahkan doa dan perbuatan lainnya yang dikerjakan semata-mata kerana Allah adalah ajakan untuk selalul terhubung dengan consciousness.
Artinya dalam kondisi Ikhlas, maka seseorang berada dalam kehidupan yang spontan. Apapun yang muncul bukan dari dirinya, bukan dari pikirannya. Namun muncul spontan dari Consciousness atau dalam bahasa agama dikatakan berasal dari Allah.

Lalu mengapa Ikhlas banyak dikaitkan dengan terwujudnya impian? Kalimat yang sering ditulis adalah: Semakin banyak melepaskan, maka akan semakin banyak menerima.
Bagi saya, melepaskan bukanlah ikhlas.
Anda dapat melepaskan sesuatu dengan tidak ikhlas, anda dapat banyak melepaskan sesuatu dengan tidak ikhlas.
Ketika dengan spontan anda melepaskan sesuatu, artinya tindakan melepaskan bukanlah dari logika anda, bukan dari pikiran anda, maka spontanitas melepaskan berasal dari consciousness, yang dalam bahasa agama sekali lagi dikatakan terhubung dengan Allah. Bahkan bukan saja saat melepaskan. Saat menerima juga dapat menjadi menerima dengan ikhlas. Ketika spontan anda menerima sesuatu, yaitu menerima bukan karena pertimbangan untung dan rugi, bukan pertimbangan logika anda, namun menerima secara spontan, maka spontanitas menerima berasal dari consciousness.

Ki Ageng Suryomentaram mengajak untuk berada dalam kondisi ikhlas ini dengan kalimat sederhana: saiki, neng kene, ngene, (sekarang, disini, seperti ini), inilah ‘present time’ ala Ki Ageng.
Ikhlas itu apa? Ikhlas itu adalah apabila anda dapat menjadikan kondisi saat ini. Entah anda melepaskan atau menerima, entah anda mengalami peristiwa apapun juga, saat anda mengalami hal-hal tersebut dan anda berada pada ‘present time’ maka anda dikatakan berada dalam kondisi ikhlas.
Saat berada dalam kondisi present time itulah anda tidak terpengaruh dengan masa lalu dan tidak khawatir dengan masa depan, saat present time anda terhubung dengan consciousness atau Allah.

Lalu mengapa ikhlas banyak dikaitkan dengan terwujudnya impian?
Ini adalah utak-atik-gatuk atau mencocok-cocokkan yang sekiranya dapat dihubungkan. Kalau kita lihat bahwa ikhlas adalah kondisi yang selalu merasakan saat ini, sekarang, disini, seperti ini, lalu apa yang anda pikirkan dengan impian anda?
Apapun yang muncul dalam kehidupan anda, apapun yang hadir dalam kehidupan anda, saat itulah terima dengan ikhlas (menyadari saat ini, sekarang, disini, seperti ini) demikian anda saat itu terhubung dengan consciousness.

Bila Ikhlas adalah kondisi present time, maka semakin jelas bahwa kata ikhlas berbeda maknanya dengan rela dan juga dengan pasrah.

Saya berikan contoh kalimat:
Saat itu anda rela melepas sejumlah uang dengan harapan akan mendapatkan keuntungan nantinya. Lalu saat anda tidak mendapatkan keuntungan yang diharapkan, anda hanya bisa pasrah dengan keadaan tersebut.

Dalam kalimat diatas, anda bisa rela dan pasrah tanpa ikhlas. Artinya saat anda melakukan tindakan rela dan tindakan pasrah, saat itu anda tidak menyadari present time, anda tidak berada dalam kondisi saat ini, disini, sekarang.

Lalu apakah seseorang yang berdoa (doa identik dengan meminta – secara umum) – meminta diberikan rejeki, diberikan kesehatan, diberikan berkah, diberikan ini dan itu. Doa yang isinya permintaan jelas bukan menyadari kondisi present time. Karena permintaan lahir dari logika atas hidup  yang dijalani.
Doa yang isinya bersyukur, mensyukuri apapun yang ada saat ini, adalah kondisi ikhlas. Karena bersyukur adalah ungkapan untuk menikmati saat ini, disini, sekarang.

Jadi, saat anda menyadari kondisi saat ini, kondisi ‘present time’ maka apa yang anda inginkan dengan impian anda? Kondisi saat ini, disini, sekarang, adalah kondisi tanpa masa lalu dan tanpa masa depan. Menikmati setiap momen kehidupan dengan spontan. Kehidupan hadir menyenangkan ya oke, kehidupan hadir menyedihkan ya oke.

Apakah kita tidak boleh mempunyai impian? Oh tentu boleh saja. Karena harapan atau impian adalah sesuatu yang menggerakkan kehidupan berjalan ke depan. Buatlah impian anda, tentukan goal anda. Kemudian jalani tindakan atau usaha-usaha anda dengan maksimal yang mengarahkan terwujudnya impian tersebut. Dalam upaya yang ada, setiap momennya, silahkan  nikmati ‘present time’ yang ada, nikmati masa kini, saat ini, sekarang, yang hadir.

Ikhlas jelas tidak ada hubungannya dengan terwujudnya impian yang anda buat.
Ikhlas adalah cara menikmati hidup selalu dalam masa kini, dan terwujudnya impian adalah upaya kerja keras dan disiplin dalam menjalankan langkah-langkah anda. Bahkan kalimat inipun bagi saya bukan ikhlas: Lakukan langkah maksimal atas upaya anda, lalu pasrahkan seluruhnya kepada Allah.
Kalimat diatas dapat menjadi kondisi ikhlas saat anda dapat menikmati setiap momen saat ini anda. Anda bisa pasrah, namun saat anda pasrah belum tentu anda berada dalam kondisi ikhlas.

Selamat menjalani setiap momen kehidupan anda dalam kondisi ‘present’, saat ini, disini, sekarang, sehingga ada terbebas dari pikiran masa lalu dan tidak khawatir dengan pikiran akan masa depan. Di saat yang sama, silahkan lakukan upaya-upaya yang maksimal atas tindakan anda untuk mewujudkan impian anda.

Salam!

Saturday, January 31, 2015

THE LORD

 Di sebuah planet di luar galaxy Bima Sakti
 
Planet Urzugh yang terdapat di dalam galaxy Andora, yang berjarak berjuta-juta tahun cahaya dari Bumi. Di sana terdapat kehidupan yang sangat maju, bahkan sangat lebih maju daripada bumi. Atau dapat dikatakan bahwa bumi hanyalah tempat percobaan bagi para ‘The Lord’ (yaitu sebutan kelompok ilmuwan di planet Urzurgh) untuk membuat prototipe kehidupan yang berguna bagi penelitiannya.

Laboratorium Xra adalah laboratorium terbesar sebagai tempat para ‘The Lord’ membuat inovasi-inovasi tentang penemuannya. Salah satu penemuan penting saat itu adalah makhluk hidup yang mereka namakan manusia! Namun penemuan ini masih disembunyikan oleh salah satu The Lord sebagai penemunya karena masih kontroversial. Ya, sebagian besar para The Lord yang lain belum setuju untuk mengembangkan manusia karena generasi The Lord sebelumnya pernah membuat percobaan yang sama dan juga dikirimkan ke planet bumi, namun ternyata percobaan itu dinyatakan gagal karena hasil temuan yang bernama manusia itu berkembang liar dan melakukan perusakan besar-besaran di bumi.

Saat itu di Laboratorium Xra, salah satu The Lord sedang meneruskan menyempurnakan pecobaannya ditemani oleh Mala, asisten setia para Lord.
“Lord, kamu yakin ini akan berhasil?”
“Aku mencoba menyempurnakannya.”
“Tapi kamu ingat kan, dulu, para generasi Lord sebelumnya juga melakukan hal yang sama. Kemudian mengirim manusia ini ke bumi untuk berkembang biak. Namun apa yang terjadi? Mereka malah merusak bumi.”
“Ya, aku ingat. Dulu itu terjadi karena manusia tidak diberikan sistem kontrol yang ketat.”
“Dimana kamu akan taruh sistem kontrol itu?”
“Di satu bagian dimana mereka nanti akan menamakannya sebagai pikiran!”
“Memori?”
“Ya, aku mencoba memberikan program pada memori asal.”
“Seperti apa?”
“Tentang kerinduannya akan asal usulnya, siapa yang menciptakannya, dan harapan-harapannya.”
“Apakah itu cukup?”
“Belum. Untuk percobaan kali ini aku juga akan meng-implankan DNA-ku ke dalamnya.”
“Gila! Kamu gila! Bukankah itu berbahaya?”
“Ini hanya sebagai pengontrol sehingga berapapun jumlahnya mereka berkembang biak, aku tetap dapat mengontrolnya dari sini.”
“Kamu sendiri yang akan mengontrol kehidupan mereka?”
“Ya! Aku juga sudah siapkan program kehidupan bagi mereka. Aku siapkan cerita bagi mereka. Ada kesedihan, ada kesenangan. Ada kegagalan, ada kesuksesan. Ada yang akan mereka cari mati-matian agar mereka bergerak. Ada perang, ada juga yang cinta damai. Semua sudah aku siapkan agar aku dapat mengontrol dan melihat hasil perkembang-biakan mereka.”
“Tapi DNA-mu yang kamu sertakan itu ..., itu berbahaya Lord!”
“Menurutmu, apa bahayanya?”
“Kalau ternyata DNA-mu berkembang karena kegagalan sistem pada diri mereka. Maka mereka akan menyadari bahwa mereka adalah kamu. Dan mereka bisa keluar dari sistem kontrolmu! Bahkan karena itu adalah DNA-mu, mereka akan dapat membuat sistem sendiri dan mengatur kehidupannya sendiri.”
“Aku sudah siapkan sistem proteksi. Bila mereka ternyata meng-akses DNA yang ada di dalam diri mereka, maka mereka akan menemukan memori bahwa aku-lah penciptanya. Dan karena mereka meyakini bahwa aku adalah penciptanya maka di titik itu mereka akan berhenti karena rasa takut yang aku tanamkan.”
“Rasa takut?”
“Ya. Terpaksa aku memberikan program rasa takut tentang sebuah tempat yang akan mereka namakan dengan nama Neraka.”
“Kalau ketakutan itu mengganggu, bukankah mereka tidak akan berkembang biak?”
“Sudah aku siapkan harapannya, yaitu mereka akan mengejar sebuah tempat kenikmatan  yang akan mereka namakan dengan Surga.”
“Lord, aku harap kamu pikirkan kembali karena percobaan ini sangat berbahaya. Aku sungguh takut kali ini, manusia yang kamu ciptakan ini kamu sertakan DNA kamu disana. Bila mereka suatu saat menyadarinya, maka mereka akan menjadi kamu, Lord. Itu yang aku takutkan.”
“Kalau itu terjadi, program akan aku musnahkan. Terpaksa! Ya, sebuah skenario tentang apa yang akan mereka namakan kiamat akan aku luncurkan. Aku akan mengontrol penuh. Nanti bila ada yang mulai menyadari maka sensor disini akan memberikan peringatan dan aku akan mengirimkan program baru untuk memusnahkannya.”

Percobaan tentang manusia dari laboratorium Xra di planet Urzugh yang terdapat di dalam galaxy Andora di luncurkan diam-diam ke bumi. The Lord mengontrol penuh perkembangannya. Jadi setiap hal yang berkaitan dengan perkembangan manusia akan ada campur tangan dari The Lord sebagai penciptanya dan pengontrol penuh sistem yang ditanamkan di pikirannya.

Perkembangan dari percobaan kehidupan yang bernama manusia itu berhasil selama beratus-ratus tahun hitungan bumi. Manusia berkembang biak. Kehidupan berlangsung seperti pada program yang telah ditanamkan. Mereka berada dalam sistem yang dijalankan oleh The lord dari planet Urzugh yang terdapat di dalam galaxy Andora, nun jauh di atas sana.

Kadang seorang manusia termenung malam hari melihat langit yang penuh bintang. Kemudian mereka akan bercakap satu dan lainnya.
“Apa yang kamu pikirkan tentang hal diatas sana?”
“Siapa pencipta kita? Apakah kita berasal dari atas sana?”
“Kita tidak akan pernah tahu hal itu. Kita tak kuasa untuk mengetahuinya.”
“Lalu apakah sang pencipta kita mengontrol kehidupan kita?”

Karena pertanyaan-pertanyaan semacam itu mulai muncul dalam diri manusia, maka The Lord meluncurkan program baru untuk meredamnya. Program itu berjalan dengan nama ‘keyakinan’ yang akhirnya dibuat buku-buku agar manusia dapat berulang kali membacanya dan merasakan ketenangan tentang apa menjadi pertanyaan dalam dirinya.

Mereka meyakini bahwa yang menciptakannya disebut dengan sebutan Tuhan, yang berada di singgasana di langit ketujuh di atas sana, yang mengontrol semua kehidupan manusia, sebagai tempat meminta dan keluh kesah manusia.

Di planet Urzugh yang terdapat di dalam galaxy Andora, para The Lord masih mengikuti perkembangan tersebut dan berdiskusi dengan Mala, asisten setia.
“Lord, mereka menyebutmu dengan kata Tuhan”
“Itu lebih baik karena mereka akan tetap berada dalam sistem yang aku buat. Aku sudah siapkan semuanya dari apa yang mereka cari tentang rejeki, jodoh dan kematian. Semua sudah rapi dalam program ini.”

Nun jauh dari jangkauan dan pengawasan The Lord, ternyata di bumi ada sebuah tempat di mana apabila manusia berada disana, dia akan terbebas dari sistem yang di buat The Lord. Bahkan DNA Lord yang ditanamkan dalam diri manusia akan berkembang pesat melebihi kapasitasnya, dan bahkan dia akan menyadari bahwa dirinnya ternyata adalah The Lord itu sendiri!
Tempat itu sangat  tersembunyi. Tidak ada manusia yang mengetahuinya secara pasti. Manusia hanya menyebut nama tempat itu dengan nama Shambala.

Saat itu, seorang manusia terjebak disana, di Shambala. Entah bagaimana perjalanannya, tiba-tiba ada sesuatu yang mengarahkan dirinya untuk berada di tempat itu.
“Selamat datang di Shambala.” Kata sambutan dari seseorang.
“Siapa kamu? Apa itu Shambala?”
“Aku dulu juga seperti kamu, manusia robot percobaan The Lord”
“Manusia robot?”
“Ya, manusia di luar sana adalah robot percobaan. Semua terprogram dalam satu sistem yang dijalankan oleh The Lord. Manusia tidak menyadari bahwa ini adalah penjara!”
“Lalu kamu siapa? Dan tempat ini tempat apa?”
“Ada salah satu Lord yang pernah datang ke Bumi. Dia mencari manusia yang siap dan berani untuk menerima apa yang akan diberikannya. Dan akulah yang bertemu dengannya. Lord ini tidak setuju dengan percobaan temannya dengan manusia ini. Program yang ada pada diriku telah di uninstall dan aku dikeluarkan dari sistem yang dibuat oleh The Lord.”
“Oh, kamukah sang manusia abadi itu?”
“Ya, beberapa manusia mengenalku sebagai manusia abadi. Mereka hanya mendengar tentang aku, namun belum pernah bertemu denganku”
“Mengapa kamu tidak muncul saja dan menemui semua manusia untuk mengatakan semua ini?”
“Tidak bisa. Karena apabila aku muncul, maka program kiamat, program penghancuran bumi akan diluncurkan oleh The Lord. The Lord akan mencariku dan akan menggunakan berbagai program keyakinan untuk memusnahkanku.”
“Oh! Jadi yang dikatakan oleh manusia bahwa apabila kamu muncul kembali akan datang kiamat, inikah yang terjadi?”
“Sudahlah .. itu tidak penting. Yang penting adalah, kamu akan aku ajak untuk menyadari siapa kamu sebenarnya!”

Di tempat itu, di Shambala, sang manusia abadi melakukan operasi untuk mengangkat program dalam diri manusia tersebut dan mengeluarkannya dari sistem kehidupan yang dibuat oleh The Lord.
“Agastya, semua sudah selesai,” kata manusia abadi tersebut.
“Akulah The Lord!” teriak Agastya.
“Ya, kini tinggal DNA The Lord yang ada dalam dirimu sehingga kamu punya kemampuan yang sama dengannya, juga denganku. Kamu dapat membuat sistem baru untuk hidupmu.”
“Manusia abadi, apabila kamu keluar dan dunia akan dibuat kiamat oleh The Lord, maka tetaplah bersembunyi di sini, di Shambala. Biarkan aku yang berjalan ke penjuru bumi untuk menemui manusia-manusia yang siap keluar dari penjara program The Lord ini.”
“Ya, temui mereka yang sudah siap saja. Karena banyak yang tidak siap. Mereka yang tidak siap adalah mereka yang nyaman dengan penjara ini. Mereka terlanjur mempunyai penghasilan dari bisnis ketakutan ini. Mereka tidak akan mau keluar dari penjara. Bahkan mereka akan mengatakan kamu sesat dan kamu dibilang akan menyesatkan manusia!”
“Ya, aku terima tugas ini wahai manusia abadi”
“Agastya, kamu akan dicari oleh The Lord sendiri. Dan dengan segala macam program baru yang dia ciptakan, The Lord akan berusaha memusnahkan kamu.”

Agastya kemudian keluar dari Shambala dan mulai menjalankan misinya, yaitu mengeluarkan manusia dari penjara sistem yang telah ditanamkan oleh The Lord.

Thursday, January 29, 2015

APA YANG TUHAN BERIKAN?


Banyak orang berdoa kepada Tuhan dan berharap Tuhan akan memberikan apa yang mereka minta. Bila Tuhan memberikan apa yang setiap orang minta, maka orang menjadi tidak berdaya. Manusia tidak akan belajar dan menggali makna dari peristiwa yang ada. Manusia akan selalu mengharapkan Tuhan memberikan solusi instan. Dan selamanya manusia akan menjadi bayi, walaupun tubuhnya tumbuh menjadi tua renta.

Ada yang berdoa, “ya Tuhan isilah diriku dengan cintamu dan jadikanlah aku orang yang penuh cinta
Dia berpikir bahwa Tuhan akan mengguyurinya dengan cinta sehingga dia akan merasakan hari-hari yang penuh cinta dan dapat mencintai sesama dengan tulus.
Namun apa yang terjadi? Ternyata Tuhan mengirimkan orang-orang yang dia benci. Tuhan menghadirkan lingkungan yang dia benci. Tuhan mengirimkan musuh kepadanya.
Untuk apa Tuhan malah mengirimkan orang yang dibenci dan mengirimkan musuh? Bukan malah mengirimkan cinta?
Jelas bahwa Tuhan ingin manusia menjadi berdaya dan kuat. Sehingga dengan adanya orang yang dibenci, dengan adanya musuh, manusia yang berdoa minta cinta dapat mengolah hatinya untuk mengubah benci menjadi cinta, mengubah musuh menjadi sahabat. Dengan demikian manusia yang berdoa untuk diberikan cinta, dapat mengenal makna cinta yang sebenarnya lewat kebencian dan permusuhan. Karena tanpa kebencian dan permusuhan cinta menjadi tidak bermakna.

Ada yang berdoa, “Ya Tuhan, jadikanlah aku kuat dalam kehidupan
Dia berpikir bahwa Tuhan akan serta merta dan tiba-tiba menjadikannya kuat. Namun apa yang terjadi?
Hari-harinya dikirim oleh Tuhan masalah-masalah yang datang bertubi-tubi. Mengapa Tuhan malah mengirimkannya masalah? Ya, agar dia menjadi kuat! Agar dia menjadi orang yang tahu makna kuat dari masalah-masalah yang dihadapi.

Dalam hal ini kita semua menjadi sadar bahwa Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, namun memberikan apa yang kita butuhkan.

Salam cinta.

Friday, November 28, 2014

LOVE, HATE & COMPASSION

Pernahkah anda mencintai begitu besar? Jika pernah maka anda juga menggenggam ‘benci’ di dalamnya. Cinta dan benci merupakan dua sisi dari mata uang kehidupan yang tidak dapat dipisahkan. Ada cinta akan ada benci. Ada benci juga akan ada cinta.

Cinta dan benci merupakan dualitas dalam kehidupan. Karena ia dualitas maka hal tersebut tidak dapat dipisahkan dan tidak dapat kita pilih salah satunya. Bila suatu saat anda mencintai, maka suatu saat anda dapat membenci. Demikian juga sebaliknya.
Bagaimana mungkin anda akan memisahkan dualitas yang memang merupakan kealamian hukum di bumi ini?
Apa yang dapat kita lakukan?
Sadarilah bahwa cinta dan benci merupakan dualitas kehidupan.

Ketika kita menyadari ini, maka kita sadar bahwa saat mencintai tiba-tiba akan dapat berubah menjadi benci. Dan ketika kita membenci maka tiba-tiba akan dapat berubah menjadi cinta.
Bila cinta dan benci merupakan dualitas, di titik mana kita menempatkan cinta dan menempatkan benci?

Saya ambil contoh kalimat ini:
“Saya mencintai Tuhan atau saya mencintai kehidupan”
Maka di dalam sikap cinta ini maka: “Saya juga membenci Tuhan dan saya membenci Kehidupan”

Benci belum muncul karena ego anda belum tersentuh, pikiran anda belum mempertahankan dirinya dalam kondisi yang akan melanjutkan dari tahap cinta. Saat ada bagian yang dapat ‘digempur’ oleh ego sehingga muncullah segudang pertanyaan untuk cinta yang mencari alasannya, maka benih benci mulai berkembang. Cinta menjadi benci dan benci menjadi cinta.

Hanya mereka yang mampu menyadari dualitas ini yang dapat mempertahankan pada kondisi tengah di antaranya. Kemudian menyadari pula bahwa cinta dan benci hanyalah alat yang dapat menyentuh ego kita.
Apakah kondisi tengah di antaranya itu? Kondisi itu dinamakan COMPASSION.

Hanya compassion yang akan membawa kepada  ‘love without reason’ – Selama kita mencintai menggunakan ego, maka benci tetap dipegang di sisi sebaliknya.
Compassion merupakan kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain. Peka terhadap apapun  yang anda cintai dan sadar bahwa disana juga ada benci.

Untuk itu, jangan berhenti pada titik cinta. Ketika kita berhenti pada titik cinta, maka kita juga menggenggam benci. Mari kita beranjak ke tahap selanjutnya dari cinta, yaitu compassion. Luaskanlah rasa cinta anda sehingga menumbuhkan kepekaan anda terhadap apapun di sekitar anda. Termasuk peka bahwa cinta dapat bergeser kepada benci, dan benci dapat bergeser kepada cinta.
Saat kita tahu dan sadar bahwa pergeseran tersebut merupakan hukum dualitas, maka apapun yang bergeser disana tidak akan mempengaruhi diri kita. Karena kita juga tahu bahwa yang dapat terpengaruh adalah pikiran pada bagian menilai dan persepsi didalamnya.

Saatnya kita beranjak dari cinta kepada compassion.